Jakarta.MEDIA INDEPENDEN NASIONAL ONLINE
Pengamat Politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Arie Sudjito menilai Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sangat mengetahui pemecatan Prabowo Subianto dari institusi TNI.
Sebab, SBY saat itu merupakan bagian dari Dewan Kehormatan Perwira (DKP). Karena itu, wacana yang berkembang bahwa SBY dan Partai Demokrat akan merapat ke koalisi yang dibangun pasangan Prabowo-Hatta Rajasa, yang oleh Arie disebut dengan akronim 'Prahara', dinilai sebagai ironi terbesar.
"Mestinya PD tak mengambil peran ke 'Prahara', tapi kalau mau, konsisten saja siap menjadi oposisi" kata Pengamat Politik dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Arie Sudjito saat dihubungi wartawan dari Jakarta, Kamis (29/5/2014).
"SBY itu tentara, dia tahu persis bagaimana memegang Konstitusi dan disiplin. Dia tahu Prabowo dipecat. Tapi kok sekarang dia mau dukung Prabowo yang pernah dihukum? Ini ironi bagi SBY sebagai purnawirawan TNI," imbuhnya.
Menurut Arie, sebagai seorang mantan prajurit TNI yang memegang teguh prinsip Sapta Marga, seharusnya koalisi Demokrat tak diarahkan pada calon presiden yang melanggar aturan kedisiplinan. Sebab, kata dia, Prabowo Subiantopernah dipecat TNI karena melanggar aturan kedisiplinan TNI itu.
Untuk diketahui, SBY termasuk yang menjadi bagian dari DKP ABRI yang memecat Prabowo sebagai tentara di tahun 1998 karena melanggar aturan kedisplinan TNI.
Untuk langkah politik ke depan, kata dia, lebih baik SBY konsisten pada ucapannya yang akan netral secara politik. Apalagi, SBY sendiri pernah menyatakan kepada publik secara terbuka bahwa partainya siap menjadi oposisi. Ketika itu berubah lagi dan hendak bergabung ke 'Prahara', maka itu kekalahan selanjutnya karena akan dinilai inkonsisten.
Menurutnya, bila tak berani menjadi oposisi, hal itu menandakan Demokrat kembali gagal memiliki orientasi. Setelah tak laku dengan konvensi capresnya, harusnya saat ini dijadikan partai itu sebagai momentum membenahi partai, dan bukan malah bergabung ke Prahara.
"Kalau begitu, citranya makin memburuk. Seharusnya berani ambil resiko menguji diri jadi oposisi, dan itu lebih positif. Sudah jelas suara mereka mengalir ke Gerindra di Pileg 2014 lalu," tegasnya.
Abdul Kadir
Sumber : http://www.tribunnews.com/pemilu-2014/2014/05/29/pengamat-ironi-jika-sby-dukung-prabowo-di-pilpres

Tidak ada komentar:
Posting Komentar